-->
download mars humanis fisip unhas

SEKOLAH ITU CANDU

 


Judul Buku    : Sekolah Itu Candu

Penulis            : Roem Topatimasing

Penerbit          : INSISTPress

Cetakan          : Cetakan ke-3, Juli 2010

ISBN               : 979-3457-85-6


Gandeamus igitur iuvenes dum sumus,  artinya

karena itu bersenang-senanglah sewaktu kita masih muda.

Anak sekolah yang menangis di sudut rumah dengan pemandangan kayu di tangan sang orang tua karena menolak dipaksa terus belajar, ketika guru hanya menyenangi siswa terpintar, siswa dari sekolah atap daun rumbia diremehkan, ketika semua anak pendek, tinggi, kurus, dan gemuk dipaksa untuk memanjat sebuah pohon rapuh secara bersama-sama yang kelihatan mustahil untuk bisa terjadi.

Itukah arti dari bersenang-senang sewaktu masih muda?

Jika ditarik ke belakang berdasarkan sejarah asal katanya, “school” atau sekolah yang berasal dari bahasa Yunani “skhole” yang artinya “free time” atauwaktu senggang. Secara singkat dapat dikatakan sebagai “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar.” 

Lalu, bagaimana kemudian sekolah yang berarti waktu senggang berubah menjadi sebuah keharusan bagi anak-anak muda saat ini?

Kita mengetahui bahwa segala aspek yang ada di dalam lingkungan pendidikan telah diseragamkan oleh pembuat kebijakan. Mereka yang ingin bersekolah diwajibkan memiliki baju seragam yang tidak seluruh masyarakat dapat memenuhinya, menjalankan kurikulum yang dipaksakan untuk disamakan dengan keinginan pembuat kebijakan, serta berbagai macam tuntutan yang harus dan memang dipaksakan dipenuhi oleh masyarakat di negeri ini.

Seharusnya sekolah adalah waktu senggang yang diisi dengan kegiatan belajar dengan senang hati, sambil tetap melakukan pekerjaan membantu di rumah, menghabiskan kehidupan sosialnya. Tapi realitasnya saat ini, anak-anak sekolah malah ditutup telinganya dan matanya untuk melihat secara luas. Mereka hanya dituntut menatap lurus pada sistem yang hanya berujung ijazah dan kemegahan.

Tapi, jika saya bertanya. Maukah anda secara sukarela masuk ke sekolah yang tidak biasa? Sekolah tanpa bangunan dan tanpa ijazah.

Bahkan apakah anda menganggap sekolah tanpa bangunan adalah sekolah?

Saat ini, masih bagus kalau tidak karena terpaksa dan didesak oleh keadaan, kita bersekolah, terutama oleh persepsi masyarakat yang sudah terlanjur salah kaprah menciutkan arti sekolah. Maka, lihatlah: setelah semua anak sekolah diwajibkan berpakaian seragam, menyusul pula kewajiban-kewajiban 'berseragam' lainnya, nyaris dalam segala hal. Dan, inilah yang lebih membuat pusing tujuh keliling: pakaian seragam, mata pelajaran seragam, bahasa dan cara bicara seragam, tingkah laku seragam, dan, lama-kelamaan, wajib seragam pula isi kepala atau bahkan isi hati mereka! Siswa dilarang mengeksplorasi wawasan mereka diluar sistem satu arah yang sudah diberikan. Yang tidak sekolah akan dicap masyarakat gagal! dan, lama-kelamaan, dia sendiri pun akan merasa dirinya memang telah benar-benar gagal dan sia-sia!.

Maka, dengan segala rahasia umum yang sudah kita ketahui di atas? Mengapa kita masih mengangungkan sekolah yang berarti sempit ini?

Ah dasar, Sekolah memang candu.