-->

Subscribe Us

download mars humanis fisip unhas

RESUME LENSA HUMANIS I BEDAH BUKU: "JANJI" KARYA TERE LIYE

         RESUME BEDAH BUKU: "JANJI" KARYA TERE LIYE 

        Novel "Janji" karya Tere Liye mengisahkan perjalanan tiga santri dalam mencari keberadaan Bahar, seorang mantan santri yang puluhan tahun lalu diusir dari pesantren akibat perilakunya yang dinilai memberontak. Melalui penelusuran rekam jejak kehidupan Bahar di masa tua, pembaca disuguhkan narasi mendalam mengenai bagaimana ia mendedikasikan sisa umurnya untuk menebus kesalahan masa lalu dengan cara melunasi janji-janji kepada masyarakat marjinal. Jika ditelaah melalui kacamata Ilmu Administrasi Publik, esensi pencarian dan perjalanan hidup tokoh Bahar ini tidak sekadar menjadi domain fiksi religius, melainkan sebuah alegori kritis terhadap implementasi etika administrasi yang berfokus pada poin akuntabilitas sebuah prinsip utama yang memastikan setiap pemegang mandat kekuasaan bertanggung jawab penuh atas amanah yang diembannya di hadapan publik.

        Kaitan administrasi publik yang paling kental dalam novel ini terletak pada poin akuntabilitas moral (moral accountability) dan akuntabilitas sosial (social accountability) yang tercermin dari tindakan nyata Bahar. Dalam kajian birokrasi, akuntabilitas sering kali direduksi secara sempit sebagai pertanggungjawaban administratif-legalistik di atas kertas (administrative accountability) seperti kepatuhan prosedur atau laporan penyerapan anggaran formal. Namun, perjalanan Bahar yang menyusuri ruang-ruang kumuh dan membantu lapisan masyarakat yang tidak terjangkau oleh sistem formal membuktikan bahwa esensi tertinggi dari akuntabilitas dalam administrasi publik tidak boleh berhenti pada formalitas hukum semata, melainkan harus menyentuh dimensi pertanggungjawaban moral dan sosial untuk menjawab kebutuhan nyata warga negara.

        Lebih jauh lagi, pemenuhan janji yang dilakukan oleh Bahar sepanjang cerita memberikan kritik tajam terhadap krisis akuntabilitas yang sering terjadi pada birokrasi konvensional, di mana aktor publik kerap melarikan diri dari tanggung jawab nyata dengan berlindung di balik ketiadaan wewenang formal sebuah bentuk patologi birokrasi yang melemahkan akuntabilitas eksternal (external accountability). Melalui tindakan Bahar yang adaptif dan responsif dalam menyelesaikan masalah kaum tertindas, kita diingatkan bahwa akuntabilitas publik yang sejati menuntut adanya komitmen dan kepekaan sosial yang tinggi. Ketika seorang administrator publik membuat kebijakan atau mengumbar janji politik, hal tersebut secara otomatis menjadi sebuah "kontrak akuntabilitas" yang wajib ditunaikan secara transparan dan berorientasi pada hasil nyata demi kemaslahatan masyarakat bawah.

        Sebagai kesimpulan, bedah buku ini menegaskan bahwa "Janji" adalah metafora dari akuntabilitas itu sendiri, yang menghubungkan moralitas individu dengan tanggung jawab institusional. Keberhasilan tata kelola administrasi publik tidak semata-mata diukur dari laporan pertanggungjawaban yang indah secara statistik, melainkan dari sejauh mana para aktor publik mampu mempertanggungjawabkan janji kesejahteraan dan keadilan kepada masyarakat yang paling membutuhkan. Novel ini menjadi refleksi fundamental bagi para birokrat bahwa setiap jabatan yang dipegang mengemban amanah etis yang menyerupai sebuah hutang mutlak, di mana kegagalan dalam mewujudkan janji pelayanan publik tersebut merupakan bentuk nyata dari korupsi nilai akuntabilitas.