-->
download mars humanis fisip unhas

25 NOVEMBER: HARI GURU NASIONAL








Oleh: Departemen Advokasi dan Pengabdian Masyarakat

 

Hari Guru Nasional diperingati setiap tahunnya di Indonesia tepat pada tanggal 25 November. Hari Guru Nasional bertujuan untuk mengenang, menghargai dan mengapresiasi jasa para guru di Indonesia.

Pada tahun 2021 ini, tema perayaan Hari Guru Nasional adalah “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”. Tema ini sejalan dengan situasi pendidikan di Indonesia saat ini yang sempat terhambat karena adanya pandemi COVID-19. Dimana pandemi mengharuskan sekolah menyelenggarakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang prosesnya sering mempersulit peserta didik dan para guru. Hari Guru Nasional mulai berlaku sejak ditetapkannya Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional yang ditandatangani Presiden ke dua Indonesia, Soeharto. Dalam keputusan tersebut, tanggal 25 November dipilih karena bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang lahir sejak 1945.


Sejarah Hari Guru tidak lepas dari perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam mengupayakan pendidikan untuk masyarakat sejak zaman kolonial Belanda. Persatuan guru sudah ada sejak tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, status sosial dan profesi guru pribumi tidak setara dengan guru dari Belanda. Sekolah Belanda seperti Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang diperuntukkan bagi pribumi keturunan Indonesia asli, golongan bangsawan, tokoh terkemuka atau pegawai negeri saat itu masih dipimpin oleh pendidik Belanda. Namun perlahan, perjuangan guru pribumi berhasil merebut satu persatu kepemimpinan di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Pada tahun 1932, nama PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Hal ini sempat membuat Belanda terkejut, pasalnya kata Indonesia dapat menciptakan semangat merdeka para pribumi Indonsia saat itu. Kemudian, kejayaan PGI terhenti pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, sebab segala bentuk organisasi dilarang dan sekolah ditutup.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 23 sampai 25 November 1945, Kongres Guru Indonesia digelar di Surakarta. Sebagai penggerak dan pemimpin adalah Amin Singgih dan Rh. Koesnan. Hasil kongres tersebut adalah guru-guru sepakat untuk membentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi aspirasi dan perjuangan guru untuk kemajuan bangsa  Indonesia.  Atas usulan dari Persatuan Guru Seluruh Periangan (PGSP) dari Jawa Barat yang mengusulkan nama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) seluruh peserta kongres sepakat dan menyetujui berdirinya suatu organisasi yang bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Setelah terbentuk, Persatuan Guru Republik Indonesia terus berjuang menggalang persatuan dengan mengajak guru-guru di daerah untuk bergabung ke dalam PGRI. Namun, perjuangan tersebut tidaklah mudah karena mendapat rintangan dari pihak Belanda. Peran Guru Republik Indonesia pada masa Revolusi Indonesia adalah ikut merumuskan tujuan Pendidikan Indonesia, serta meletakkan dasar bagi pendidikan yaitu dijadikannya Pancasila sebagai landasan idiil Pendidikan.

Saat ini, mari kita melihat kembali fakta bahwa hampir 80 persen jumlah guru tersebar di kota, sisanya 20 persen di desa  (Irman, kongres PGRI ke-21). Hal ini menujukkan adanya kesenjangan, dimana hanya penduduk kota sajalah yang akan mempunyai kualitas SDM handal, sedangkan penduduk desa akan terus terbelakang. Mengutip kalimat dari Ki Hadjar Dewantara; “Jadikan setiap orang sebagai guru, dan jadikan rumah sebagai sekolah” menjadi pengingat sekali lagi untuk kita sebagai pemuda Indonesia yang terpelajar untuk dapat memanfaatkan momentum peringatan Hari Guru Nasional ini untuk berkontribusi sebagai wujud terima kasih kita kepada para guru dengan cara menjadi guru atau teladan bagi anak bangsa lainnya, di mana pun dan kapan pun.

 

Selamat Hari Guru, semoga semangat juangmu terus mengalir di darahku.

 

Salam Biru Langit.

Kejayaan Dalam Kebersamaan.