-->
download mars humanis fisip unhas

RESUME DIALEKTIS : Roem Topatimasang: Sekolah itu Candu




Judul buku     : Sekolah itu Candu
Penulis           : Roem Topatimasang
Penerbit         : INSISTPress
Cetakan         : Cetakan ke-3, Juli 2010
ISBN             : 979-3457-85-6

Buku Sekolah itu Candu pertama kali diterbikan pada tahun 1998 oleh penerbit Pustaka Pelajar, Jogyakarta. Selama beberapa tahun, buku ini menjadi salah satu 'buku terlaris' (best seller), sehingga Pustaka Pelajar mencetak-ulangnya beberapa kali sampai cetakan kedelapan. Yang menarik dari buku ini ialah kritik penulis yaitu Roem Topatimasang terhadap sekolah di Indonesia yang dituliskan dalam empat belas bagian. Buku ini diawali dengan kisah tokoh bernama Sukardal, seorang petani yang tanpa sengaja menemukan satu naskah tua di Museum Bank Naskah Nasional, yang diberi label amaran resmi sebagai 'bacaan terlarang', berjudul Sekolah!.

Membahas mengenai sekolah, apakah yang terlintas dipikiran anda? Sekawanan bangunan gedung? Seragam sekolah? atau biayanya yang mahal? Ternyata, pandang tersebut berbanding terbalik dengan apa yang Roem tuliskan di buku ini. Berdasarkan sejarah asal katanya, “school” atau sekolah yang berasal dari bahasa Yunani “skhole” artinya adalah “free time” atau waktu senggang. Orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae atau schola. Keempatnya punya arti sama: 'waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar' (leisure devoted to learning). Di buku ini juga ada tertulis kalimat yang menarik, yaitu Gaudeamus igitur iuvenes dum sumus yang berarti bahwa karena itu bersenang-senanglah sewaktu kita masih muda. Jika dikaitkan dengan sekolah yang berarti waktu senggang dimana pada umumnya hal yang dilakukan adalah kegiatan yang disukai, hal


ini berarti bahwa seharusnya sekolah memberikan kesenangan kepada tiap orang yang melakukannya, bukan?

Lalu, apa yang terjadi pada realita sekolah masa kini? Di buku ini terdapat sebuah lampiran koran lama keluaran tahun 2007 dengan judul “Tidak Lulus Ujian Nasional Siswi SMP Gantung Diri”. Kronologinya dijelaskan bahwa kejadian ini terjadi setelah pengumuman hasil UN, dimana Endang Lestari siswi kelas 3 SMP Negeri 1 Kerjo tersebut dinyatakan tidak lulus. Tercatat bahwa akibat UN tahun 2006 lalu, Komnas Perlindungan Anak melaporkan setidaknya 100 anak menderita trauma UN. Dibuktikan dengan banyaknya kasus bunuh diri dengan berbagai motif, salah satunya adalah karena malu, dan juga terjadi aksi pembakaran sekolah oleh para siswa. Tidak hanya itu, di buku ini juga dituliskan realita bahwa seragam pakaian sekolah pun berperan dalam memberikan dampak pada para siswa. Dimana anak-anak gadis, yang masih penuh dengan mimpi-mimpi dunia remaja mereka yang serba ceria itu, kini ke sekolah pakai jilbab saja diributkan, dicurigai, bahkan dituduh sebagai oknum-oknum yang telah dipengaruhi oleh anasir-anasir Revolusi Irannya Ayatullah Rohullah Khomeini. “Maka, lihatlah: setelah semua anak sekolah diwajibkan berpakaian seragam, menyusul pula kewajiban-kewajiban 'berseragam' lainnya, nyaris dalam segala hal. Dan, inilah yang lebih yang membuat pusing tujuh keliling: pakaian seragam, mata pelajaran seragam, bahasa dan cara bicara seragam, tingkah laku seragam, dan, lama-kelamaan, wajib seragam pula isi kepala atau bahkan isi hati mereka!”. Dan kisah menarik yang terakhir ialah kisah Eko. Seorang siswa berbakat yang dikeluarkan dari sekolahnya bahkan ditolak perguruan tinggi karena bakatnya dan kemauannya untuk keluar dari jalan satu arah yang ditetapkan pembuat kebijakan, dimana Eko berupaya mengeksplorasi kemampuannya melalui sebuah penelitian yang ia rancang dan lakukan sendiri. Menjadi kasus yang banyak mendapat respon dari para masyarakat yang menyayangkan tindakan keliru sekolah dan menyarankan untuk membiarkan seorang berbakat seperti Eko dapat belajar kembali di sekolah. Ternyata lucu juga pandangan kita, sekolah yang fungsi utamanya yakni sebagai lembaga pendidikan yang membentuk watak dan sikap, mengembangkan pengetahuan, serta melatihkan keterampilan yang nyata-nyatanya sudah menyeleweng, masih tetap juga kita inginkan keberadaannya.

Maka, dimanakah letak sesungguhkan kesenangan di waktu muda dan waktu senggang itu berada (sekolah)? Salah satu ilustrasi gambar yang terdapat pada buku ini, menjelaskan bahwa para siswa, anak muda kita saat ini, dibutakan mata dan hatinya oleh selembar kertas belegalisir berisikan nilai-nilai dan pengakuan bernama Ijazah. Apa yang seharusnya seimbang yakni arti makhluk sosial kini tidak seimbang dengan berbagai


kompetisi tidak sehat bahkan merugikan dan menjatuhkan banyak orang, khususnya kalangan bawah. Sudahkah anda berpikir bahwa ada yang salah?

 

“Sekolah itu Candu'. Candu memang punya dampak membius, membuat semua orang terlena dari kenyataan yang sudah parah. Lewat jenjang pendidikan dan akreditasi, disahkan ketimpangan pembagian pendapatan yang sangat jomplang. Para manajer puncak perusahaan swasta di kota-kota besar meraup penghasilan lebih dari 50 juta rupiah per bulan, mungkin sama dengan penghasilan petani selama 5 tahun. Masyarakat dibius dengan materialisme dan kapitalisme yang tak kenal malu.”

 

“HARAP MAKLUM, sekali lagi, terutama dalam rangka membuat orang tersenyum dan tertawa itulah maksud utama buku kecil ini disajikan ke hadapan anda semua. Kalau ada banyak di antara pembaca nanti yang menyelewengkan, sengaja atau tidak sengaja, maksud utama itu --misalnya saja anda lantas berkerut dahi sambil menganggukangguk dan berkhayal bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia pendidikan  kita, lantas anda berencana melakukan sesuatu untuk merombaknya habis-habisan, maka itu menjadi tanggung jawab anda sendiri.” Toto Rahardjo (penyunting akhir) Ketua Dewan Pendidikan INSISr, 2005-2008.

 

Sekian dan terima kasih.

Salam Biru Langit,

Kejayaan Dalam Kebersamaan